Tampilkan postingan dengan label Medan Kotaku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Medan Kotaku. Tampilkan semua postingan

Minggu, 08 Februari 2009

Wafatnya Ketua DPRD-SU dan Penyampaian Aspirasi yang Santun

Selasa siang, tanggal 3 Februari 2009, saya membaca advertorial di halaman terakhir Harian Waspada. Isinya ucapan selamat dari salah satu lembaga bimbingan belajar atas diwisudanya putra ke-2 Drs. H. A. Aziz Angkat, M.SP (Ketua DPRD Sumatera Utara) dari Fakultas Ekonomi USU.
Tidak ada yang terlalu istimewa dari iklan tersebut karena toh kita biasa melihat iklan seperti itu di surat kabar (yang terlintas di benak saya waktu itu hanyalah: Alhamdulillah, ada satu lagi anak manusia yang telah membahagiakan orangtuanya dengan keberhasilannya menyelesaikan pendidikan).
Yang mengagetkan adalah berita yang sorenya saya saksikan di MetroTV. Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un. Pak Aziz meninggal dunia di Gleni Hospital. Penyebabnya serangan jantung saat terjadi demonstrasi mengenai pemekaran Propinsi Sumatera Utara di kantor DPRD.
Massa demonstran yang dikomandoi oleh panitia pembentukan Propinsi Tapanuli (Protap) bertindak anarkis dan merangsek masuk ke ruang rapat dewan. Mereka berniat memaksa ketua DPRD-SU menggelar sidang paripurna pembentukan Protap pada saat itu juga. Beberapa petugas keamanan dan anggota dewan berusaha menghindarkan Pak Azis dari kepungan massa. Para demonstran mulai tidak terkendali. Mereka semakin beringas dan merusak ruang rapat dewan, melempari petugas dengan benda-benda yang dapat mereka temukan. Kursi dan papan nama anggota dewan pun melayang, bahkan peti mati yang dibawa para pengunjuk rasa ikut dilempar kearah petugas.
Massa mengejar Pak Azis, melontarkan kata-kata yang tidak senonoh, bahkan berusaha memukul beliau (seorang saksi menyatakan, demonstran ada juga yang berusaha menendang). Penghargaan yang tulus patut kita berikan kepada H. Azwir Sofyan (penasehat Fraksi Partai Amanat Nasional DPRD-SU) dan Asnan Said (anggota Fraksi Partai Golkar) yang menjadikan dirinya sebagai tameng bagi Pak Azis saat kondisinya semakin terdesak, serta beberapa petugas keamanan yang diakui Pak Azwir ikut melindungi almarhum dari kepungan massa.
Di WaspasaOnline terdapat gambar yang menunjukkan beliau ditonjok pada rahang sebelah kanan. Akibat situasi yang chaos tersebut, Pak Azis jatuh pingsan dan langsung dievakuasi petugas. Sayangnya proses evakuasi terlambat akibat ulah para demonstran yang menghalang-halangi mobil Dalmas (Pengendali Massa) yang membawa Pak Azis keluar dari sekretariat dewan. Mereka melintangkan angkutan kota di gerbang keluar kantor dewan. Tidak hanya itu, mobil Dalmas tersebut juga dilempari batu dan helm.
Ajal memang tidak ada yang mengetahui kapan datangnya. Seperti halnya yang terjadi pada Pak Azis. Kemarin (02/02/2009) dia masih berbahagia karena wisuda Agung, anaknya, hari ini (03/02/2009) ternyata beliau dipanggil oleh sang Khalik.
Sebagai orang awam, saya tidak terlalu mengenal sosok Pak Aziz Angkat yang merupakan fungsionaris partai Golkar ini. Sejauh yang saya baca, tidak banyak pemberitaan maupun pernyataan beliau yang dikutip koran-koran lokal seperti halnya politisi-politisi lainnya. Beliau baru saja menjadi ketua DPRD-SU menggantikan Abah Wahab (Abdul Wahab Dalimunthe) yang mundur karena mencalonkan diri menjadi gubernur Sumatera Utara pada Pilgubsu yang lalu. Sebagai warga Medan, saya mengucapkan turut berbela sungkawa kepada keluarga yang ditinggalkan, semoga tabah dan sabar menghadapi cobaan ini.
Mengingat banyaknya wacana pemekaran daerah di Sumatera Utara selain Protap, seperti Propinsi Sumatera Timur, Propinsi Nias, Propinsi Pantai Barat, Propinsi Sumatera Tenggara, pemekaran Medan menjadi Medan Kota dan Medan Utara, saya berharap wafatnya Pak Azis sedikit banyaknya bisa menggugah hati orang-orang yang berkepentingan terhadap segala bentuk wacana pemekaran ini (baca: bagi-bagi kekuasaan) untuk tidak memaksakan kehendak. Dewasalah dalam berdemokrasi. Segala sesuatu ada peraturan dan prosedurnya sendiri, misalnya saja dalam hal pemekaran wilayah harus mengacu pada UU No. 32 tahun 2004 dan PP No. 78 tahun 2007.
Apabila terjadi perbedaan persepsi mengenai penafsiran dan pelaksanaan undang-undang, tentu hal tersebut dapat diselesaikan secara hukum atau politis. Jangan hanya menggerakkan massa, yang kadang-kadang malah tidak mengetahui secara detail apa yang mereka perjuangkan.
Jangan asal mengecam , karena kecaman boleh jadi disebabkan ketidaktahuan mengenai tata tertib yang berlaku. Jangan asal mengancam, sebab terkadang ancaman tidak sepenuhnya Anda inginkan terjadi. Ada hal yang memilukan yakni terdapat spanduk bertuliskan “Provinsi Tapanuli, Paripurna atau Mati” yang diusung para mahasiswa dari salah satu PTS di Sumut. Ironis sekali, karena yang terjadi kemudian adalah pilihan yang terakhir mereka tawarkan, meninggalnya wakil rakyat. Tentu sebenarnya mereka tidak menginginkan hal tersebut.
Pada kejadian unjuk rasa lain, saya merasa agak lucu saat menyaksikan ada sekelompok demonstran, tapi ketika diajak berdialog oleh pihak yang didemo, duduk dan bicara baik-baik tentang apa yang mau disampaikan, eh malah menolak dan memilih tetap berorasi di depan gedung. Nah lho, sebagian masyarakat kita berarti beranggapan “kalau mau apa-apa ayook demon, nanti pasti dikasih apa yang kita minta; andaikan belum dikabulkan apa yang diminta, ancam saja kalau kita nanti akan membawa massa lebih banyak”.
Lebih parahnya lagi sebagian masyarakat kita sepertinya punya stereotype tersendiri tentang demonstrasi. Ngomong dengan lantang, dan selagi bisa rusakin aja barang-barang di sekitar tempat demonstrasi untuk menunjukkan keseriusan tuntutan. Masalah hukum itu urusan nanti, apalagi beberapa tahun belakangan ini aparat kepolisian bersikap sedikit lunak kepada para demonstran karena sepertinya ‘takut’ mendapat pemberitaan dan pencitraan negatif dari media massa.
Saya sangat berharap media massa mampu mendidik masyarakat dengan menayangkan demonstrasi damai ala PKS (bukan promosi lho). Jadi masyarakat kita tidak melulu melihat demonstrasi anarkis yang bikin miris. Demonstrasi destruktif yang bikin kita makin primitif. Merusak fasilitas umum, merusak fasilitas kampus (kampus sendiri lagi!). Apalagi saya perhatikan, begitu disorot kamera, terkadang para demonstran ini agak lebay (berlebihan), sadar kamera kali ya, biar terlihat keren di tv.
Pada akhirnya, sebagai sesama penduduk Nusantara tercinta ini, saya hanya ingin mengingatkan, apabila kita punya usulan atau kehendak, sampaikanlah keinginan tersebut secara santun kepada pihak-pihak terkait. Bangsa Indonesia adalah bangsa yang berbudaya. Bertindak brutal belum tentu memuluskan terwujudnya harapan kita. Semua hal ‘kan ada aturan mainnya. Setuju tidak?

Sabtu, 07 Februari 2009

Menyoal Nama Bandara Kuala Namu

Pembangunan Bandara
Bandar Udara Internasional Kuala Namu adalah sebuah bandar udara baru untuk kota Medan, Indonesia. Lokasinya merupakan bekas areal perkebunan PT. Perkebunan Nusantara II Tanjung Morawa, terletak di Kuala Namu, Kabupaten Deli Serdang. Kuala Namu akan menggantikan Bandara Polonia yang sudah berusia lebih dari 70 tahun. Saat selesai dibangun, Kuala Namu yang diharapkan dapat menjadi bandara pangkalan transit internasional untuk kawasan Sumatera dan sekitarnya, akan menjadi bandara terbesar kedua di Indonesia setelah Bandara Soekarno-Hatta.
Pemindahan bandara ke Kuala Namu telah direncanakan sejak tahun 1991. Persiapan pembangunan diawali pada tahun 1997, namun krisis moneter yang dimulai pada tahun yang sama kemudian memaksa rencana pembangunan ditunda. Sejak saat itu kabar mengenai bandara ini jarang terdengar lagi, hingga muncul momentum baru saat terjadi kecelakaan pesawat Mandala Airlines pada September 2005 yang jatuh sesaat setelah lepas landas dari Polonia. Kecelakaan yang merenggut nyawa Gubernur Sumatra Utara Tengku Rizal Nurdin tersebut juga menyebabkan beberapa warga yang tinggal di sekitar wilayah bandara meninggal dunia akibat letak bandara yang terlalu dekat dengan pemukiman. Hal ini menyebabkan munculnya kembali seruan agar bandara udara di Medan segera dipindahkan ke tempat yang lebih sesuai. Selain itu, kapasitas Polonia yang telah lebih batasnya.
Recana pembangunan selama bertahun-tahun terhambat masalah pembebasan lahan yang belum terselesaikan. Namun pada November 2006 dilaporkan bahwa Angkasa Pura II telah menyelesaikan seluruh pembebasan lahan.
Pembangunannya direncanakan akan dilaksanakan sepanjang tiga tahap. Tahap I dimulai pada 29 Juni 2006 dan selesai pada tahun 2009 atau paling lambat 2010. Tahap ini dibangun sendiri oleh pemerintah dengan PT. Angkasa Pura II, dengan pembagian berupa sisi darat (misalnya terminal, areal parkir) dibangun Angkasa Pura sementara sisi udara dibangun Direktorat Jenderal Udara. Dana untuk pembangunan Tahap I terdiri dari Rp. 1,3 triliun dari Angkasa Pura dan dana pinjaman sebesar Rp. 2,3 triliun. Pada akhir November 2006 juga diumumkan pemenang tender untuk tim perancang bandara. Setelah itu, pemenang diberi waktu delapan bulan untuk merancang bandara. Tahap II yang direncanakan dibangun bersama oleh pemerintah dan investor, akan dimulai tahun 2010.
Pembangunan Tahap I disertai pula oleh pembangunan jalur kereta api dari Stasiun Aras Kabu di Kecamatan Beringin ke bandara yang berjarak sekitar 450 meter. Stasiun Aras Kabu sendiri terhubung ke Stasiun Medan dengan jarak 22,96 km dengan jarak tempuh berkisar antara 16-30 menit.
Ada pula usulan pembangunan Jalan Tol Medan-Kuala Namu sebagai usaha pengembangan prasarana pengangkutan dari dan ke bandara. Namun pelaksanaan pembangunan selama periode pembangunan jalan tol tahun 2005-2010 belum dikabulkan oleh pemerintah pusat.
Tahap I bandara diperkirakan dapat menampung tujuh hingga 10 juta penumpang dan 10.000 pergerakan pesawat pertahun, sementara setelah selesainya Tahap II bandara ini rencananya akan menampung 25 juta penumpang pertahun.
Luas terminal penumpang yang akan dibangun adalah sekitar 6,5 hektar dengan fasilitas area komersial seluas 3,5 hektar dan fasilitas kargo seluas 1,3 hektar. Bandara International Kuala Namu memiliki panjang landas pacu 3.750 meter, dan sanggup didarati oleh pesawat berbadan lebar. [disarikan dari Wikipedia Indonesia]

Apakah nama yang tepat bagi Bandara Kuala Namu?
Yang jadi perbincangan hangat dan perdebatan mengenai Bandara Kuala Namu bukan mengenai pembangunannya yang tersendat-sendat, namun justru tentang nama yang akan diberikan untuk bandara tersebut.
Kita tahu sendiri di Sumatera Utara ada banyak etnis, dan yang terjadi adalah perang opini di koran lokal bahwa suku X merasa dialah yang paling berhak mengajukan nama bagi bandara yang sedang dibangun tersebut. Suku X ingin bandara dinamakan sesuai nama tokoh yang dibanggakannya, “Pokoknya harus si Anu, dia itu hebat, kami siap memperjuangkannya�. Sementara suku Y juga berpikiran sama. Belum lagi suku Z, yang mengatakan “kok suku X aja yang mau membanggakan tokohnya, nama jalan, nama universitas, nama lain-lain sudah memakai nama tokoh dari sukunya, gantian dong, emang dia aja yang tinggal di Sumut�.
Ada juga warga yang mengusulkan nama yang relatif lebih ‘aman’. Aman dalam artian tidak didasarkan pada kesukuan tokoh tersebut, tapi pada kiprah si tokoh secara nasional maupun internasional. Bahkan ada juga yang menyarankan daripada susah-susah menentukan nama bandara berdasarkan nama tokoh, saling bersilat lidah antar suku untuk memberi pembenaran terhadap pilihan masing-masing, lebih baik nama bandaranya berdasarkan tempat keberadaannya, yaitu Bandara Internasional Kuala Namu.
Beberapa nama tokoh yang diajukan sebagai nama bandara Kuala Namu antara lain: Sisingamangaraja XII, Amir Hamzah, Adam Malik, Jenderal A.H. Nasution, Tengku Rizal Nurdin dan Marah Halim.
Anda pilih yang mana? Atau Anda punya alternatif nama yang lain? Kalau saya belum punya pilihan, masih banyak waktu untuk berpikir sepertinya, ‘coz bandaranya aja belum rampung-rampung hehe… Yang terpikir saat ini adalah kalau bandara Polonia pindah ke Kuala Namu, anak saya Razan, bakal susah lihat pesawat take-off dan landing karena bandaranya udah jauh. Biasanya seminggu sekali kami ke Taman Dirgantara, yang tepat berada di samping bandara. Ntar kalau dia minta “Ma, Razan mau ke Polonia� bakal gak ada lagi pesawat yang lagi parkir dan bisa dihitungnya. Yang ada mungkin gedung-gedung tinggi dan perumahan-perumahan mewah. Wallahua’lam….

Medan, The Multicultural City

Suku bangsa
Medan ibukota provinsi Sumatera Utara adalah kota yang didiami berbagai suku. Ada Melayu Deli, Batak, Jawa, Tionghoa, India, Minang, Aceh (yang gak disebut jangan marah). Suku Batak sendiri bisa dibagi menjadi Batak Karo, Batak Toba, Batak Simalungun, Batak Pakpak, Batak Mandailing, juga Nias.
Melayu dan Batak bisa dikatakan sebagai suku asli di Sumatera Utara. Pendatang-pendatang terutama dari Pulau Jawa datang karena kontrak kuli dengan pemerintah Hindia Belanda untuk bekerja di perkebunan-perkebunan (tembakau, karet, kelapa sawit, dll). Ada pula pendatang Tionghoa yang datang mengadu nasib untuk kemudian menetap di sini. Kalau di kota-kota lain ada Chinese Town-nya, di Medan ada Kampung Keling (atau sekarang namanya Kampung Madras), tempat berpusatnya etnis India. Walaupun tidak banyak jumlahnya, orang Arab juga kita jumpai di Medan (tetangga depan, belakang, samping kiri, dan kanan rumah saya orang Arab).
Banyaknya orang Minang dan Aceh bisa jadi karena kedekatan geografis Sumatera Utara dengan Sumatera Barat dan Nangroe Aceh Darussalam. Medan sejak lama telah menjadi pusat ekonomi dan pendidikan di Pulau Sumatera, sehingga tidak mengherankan kalau banyak penduduk dari wilayah di sekitar Sumut yang datang merantau.
Tumbuh di lingkungan dengan akulturasi kebudayaan seperti yang terdapat di kota Medan, tentu memberi banyak pelajaran bagi kita, terutama mengenai toleransi dan penghargaan terhadap budaya orang lain. Dan bukankah kita diciptakan Allah berbeda-beda untuk saling mengenal dan menyadari kebesaran-Nya?
Paling asyik kalau sedang digelar pesta perkawinan, adat-istiadat berbagai etnis yang ada bisa kita lihat secara jelas. Beberapa waktu lalu, tetangga saya menghelat syukuran pernikahan putrinya, saya bisa mendengar dan melihat lagu dan sedikit tarian Timur Tengah. Sementara itu, sebelum dan sesudah Imlek di Medan lagi banjir buah, terutama berbagai jenis jeruk. Tidak hanya diminati orang Tionghoa, warga dari etnis lain juga rame-rame beli buah atau manisan kering yang sebenarnya khas Imlek. Acara yang menampilkan Barongsai juga digelar di mana-mana. Semua orang senang, semua orang menikmati.
Bahasa
Pada dasarnya, bahasa yang dipergunakan secara luas adalah bahasa Indonesia. Namun, tentu saja penggunaan bahasa Indonesia di Medan masih sangat dipengaruhi bahasa Melayu (juga dari bahasa etnis lainnya), tidak hanya pada bahasa sehari-hari, namun juga pada bahasa tulisan misalnya di koran-koran lokal. Tidak heran kalau Anda membaca surat kabar lokal, Anda akan menemukan kata-kata yang harus dicari padanan katanya dalam bahasa Indonesia agar mengerti saat membacanya. Mungkin selain bahasa daerah, perlu diperkenalkan lagi satu bahasa: bahasa Medan! He..he..
Beberapa contoh kata yang sering digunakan orang Medan antara lain: awak (saya, bisa juga berarti kamu), pajak (pasar), kereta (sepeda motor), rol (penggaris), kede/kedai (warung), bombon/bonbon (permen), angek (iri), bedangkik (pelit), paten (hebat), mentel (genit), mengkek (manja), libas (berasal dari bahasa Batak, artinya memukul dengan cemeti atau sapu lidi, menyikat habis, mengalahkan), RBT (ojek, katanya RBT singkatan dari Rakyat Banting Tulang, kalau yang ini saya tidak tahu benar atau tidak hehe...).
Orang Medan juga suka menyingkat kata misalnya limper ( lima perak, maksudnya Rp 5), limpul (Rp 50), limrat (Rp 500), cemana (dari kata macam mana yang berarti bagaimana), kepling (kepala lingkungan) dan sebagainya.
Suku Melayu Deli menuturkan bahasa Melayu. Ada bahasa Melayu berdialek "O" , ada pula bahasa Melayu dengan dialek "E" yang sering juga disebut bahasa Maya-maya (baca: maye-maye). Keluarga saya ada yang menikah dengan orang Melayu. Nama beliau Ibnu Ruhyan, saya memanggilnya Paklek Ibnu, ikut tutur keluarga saya yang dominan Jawa, tapi saya memanggil orangtua Paklek Ibnu "Atok Aje"(kakek) dan "Atok Emak" (nenek). Sepupu saya, Randy, memanggil ayahnya (Paklek Ibnu) dengan sebutan "Aje" dan menyebut ibunya "Mamak". Sementara, adik Randy yang bernama Ryan memanggil abangnya dengan "Babah". Nah, satu lagi Bu Ida, juga orang Melayu. Beliau memanggil neneknya dengan sebutan "Andung". Anak saya memanggil mamak Bu Ida dengan sebutan "Unyang" (buyut).
Sementara keturunan Jawa Kontrak ( Jadel - Jawa Deli ) memakai bahasa Jawa yang sudah terdegradasi. Jadi jangan tersinggung kalau Anda berkunjung ke Medan dan diajak berbahasa Jawa kasar. Bukan karena ketidaksopanan, tapi lebih karena ketidaktahuan. Orang Pujakesuma (Putera Jawa Kelahiran Sumatera) memang sedikit sekali yang bisa bahasa Jawa halus. Mantan district manager saya di salah satu penerbangan swasta berasal dari Jawa Timur. Ketika orangtuanya berkunjung ke Medan, beliau mewanti-wanti orang tuanya supaya berbahasa Indonesia saja, agar tidak terjadi kesalahpahaman karena masalah "rasa" dalam berbahasa.
Orang Tionghoa lazim menuturkan bahasa Hokkien selain bahasa Indonesia. Antar sesamanya, orang Tionghoa boleh dibilang selalu menggunakan bahasa Hokkien. Kalau sering bergaul dengan orang Cina, biasanya kita bisa sedikit-sedikit mengerti bahasa dimaksud, atau paling tidak berbahasa Indonesia dengan dialek Hokkien.
Suku Batak menuturkan bahasa Batak yang terbagi atas banyak logat. Semasa SMA, saya pernah minta dituliskan kamus kecil bahasa Batak pada sahabat saya, Lusiana Berampu, tapi karena tidak dipelajari lebih lanjut, saya tetap aja tidak menguasai bahasa Batak.
Agama
Agama utama di Sumatra Utara adalah: (1) Islam: terutama dipeluk oleh suku Melayu, suku Mandailing dan Jawa; (2) Kristen (Protestan dan Katolik): terutama dipeluk oleh suku Batak dan Nias; (3) Hindu: terutama dipeluk oleh keturunan India; (4) Buddha dan (5) Konghucu: terutama dipeluk oleh suku Tionghoa.
Surga Kuliner
Siapapun yang pernah tinggal atau berkunjung ke Medan pasti sepakat bahwa kota ini adalah surganya kuliner. Seperti telah dijelaskan sebelumnya, Medan didiami oleh berbagai suku, masing-masing etnis punya makanan khas yang tentu saja "enak kali!!" (enak banget). Pokoknya kalau ditawari makan oleh orang Medan, libas aja (sikat habis). Eh, iya bagi Anda yang muslim jangan lupa bertanya makanannya halal atau tidak. Ada beberapa jenis makanan tidak halal, baik itu karena mengandung unsur babi, arak bahkan anjing. Mari kita telusuri satu persatu makanan khas Medan.
Di manapun di kota Medan mudah kita temui rumah makan Melayu-Minang. Mau pesan apa? Gulai kepala ikan, ayam pop, kari, lele sambel ijo, anyang. Ada pula bubur pedas yang katanya dibuat dari 44 macam bahan dan bumbu (saya belum pernah makannya nih). Jangan lupa juga sate Padang, yummy… Kalau ini lebih banyak lagi yang jual, tidak hanya di restoran atau rumah makan, ajo-ajo banyak yang keliling ke rumah-rumah atau stand by di tempat-tempat strategis.
Berbagai makanan Tionghoa juga bisa kita jumpai. Kwetiau (biasa disebut mie Tiauw), bakmie, nasi ayam Hainan. Kalau mau tahu lebih lanjut, coba aja berkunjung ke warung-warung di Jalan Semarang dan Jalan Selat Panjang. Oya, Anda tahu tidak kalau makan kari selain ditemani nasi, Anda bisa juga mencoba kari plus bihun (ini pengaruh masakan Tionghoa).
Siapa pula yang tidak kenal soto Medan? Nyam..nyam… Bayangin kelezatan kuahnya, dagingnya (bisa daging ayam, sapi atau udang) salah satu yang terkenal adalah Soto Udang di Jalan Kesawan, kalau saya sih langganannya soto Medan “Purwodadi� di Brayan. Biasanya makan soto didampingi sepiring nasi putih, perkedel dan sambal kecap.
Kalau makanan Batak kita bisa coba arsik ikan (salah satu bumbunya adalah bawang Batak), daun ubi tumbuk (daun singkong yang dihaluskan dimasak dengan santan dan bumbu-bumbu lainnya, kalau suka ditambah rimbang), makannya ditemani ikan asin sama sambal ikan atau sambal ayam. Bakal gak cukup nasi sepiring hehe…Bagi yang non-muslim bisa mencoba hidangan di lapo yang menawarkan BPK (Babi Panggang Karo).

Makanan Jawa juga mudah kita jumpai, seperti pecal, gado-gado, tongseng, gudeg juga ada. Nah, yang lagi naik daun di Medan adalah hidangan ayam penyet.
Masakan Aceh juga banyak penggemarnya di Medan. Di Glugur, dekat rumah saya ada Sop Sumsum Langsa. Dengan Rp 23.000 kita bisa mendapatkan satu porsi sup tulang kaki sapi yang segar. Sumsumnya dihisap dengan memakai sedotan (pipet kata orang Medan). Sluurrrp.... Tidak sedikit orang yang menyukai mie Aceh, apalagi mie Aceh dengan kepiting di Titi Bobrok yang sangat terkenal. Tapi, entah kenapa ya, saya termasuk segelintir orang yang tidak menyukai mie Aceh. Apalagi pakai kepiting, bukan karena saya tidak suka kepiting, tapi karena saya alergi kepiting !!
Sumbangan kuliner dari India dan Timur Tengah juga tidak bisa dikesampingkan. Martabak India/Mesir pasti tidak pernah saya tolak hehe... Sertakan juga nasi Briyani, roti cane, makanan kecil seperti mayong (putumayam/putumayang), kue putu.
Sebagai tambahan informasi, oleh-oleh dari Medan tidak hanya bika Ambon dan sirup Markisa. Coba saja cari di Jalan Mojopahit (langganan saya toko Zulaika) ada lapis legit dan sirup terong Belanda. Tidak ketinggalan pula Bolu Gulung Meranti di Jalan Kruing yang lembut banget itu. Kalau mau makanan mentah Anda bisa mencari teri Medan sebagai oleh-oleh. Biasanya ibu saya beli di Sentral (pajak central aka pusat pasar aka Central Market) di dekat Medan Mall. Mau beli durian tanpa mengenal musim? Coba cari di Jalan Adam Malik (Glugur by pass), atau di satu toko baru pusat oleh-oleh serba durian di Jalan Sekip.
Wah..wah, mendata makanan dan minuman yang ada di Medan jadi haus. Pengen jus Martabe nih alias jus markisa plus terong Belanda. Cao dulu awak ya, Wak!!