Sabtu, 07 Februari 2009

Medan, The Multicultural City

Suku bangsa
Medan ibukota provinsi Sumatera Utara adalah kota yang didiami berbagai suku. Ada Melayu Deli, Batak, Jawa, Tionghoa, India, Minang, Aceh (yang gak disebut jangan marah). Suku Batak sendiri bisa dibagi menjadi Batak Karo, Batak Toba, Batak Simalungun, Batak Pakpak, Batak Mandailing, juga Nias.
Melayu dan Batak bisa dikatakan sebagai suku asli di Sumatera Utara. Pendatang-pendatang terutama dari Pulau Jawa datang karena kontrak kuli dengan pemerintah Hindia Belanda untuk bekerja di perkebunan-perkebunan (tembakau, karet, kelapa sawit, dll). Ada pula pendatang Tionghoa yang datang mengadu nasib untuk kemudian menetap di sini. Kalau di kota-kota lain ada Chinese Town-nya, di Medan ada Kampung Keling (atau sekarang namanya Kampung Madras), tempat berpusatnya etnis India. Walaupun tidak banyak jumlahnya, orang Arab juga kita jumpai di Medan (tetangga depan, belakang, samping kiri, dan kanan rumah saya orang Arab).
Banyaknya orang Minang dan Aceh bisa jadi karena kedekatan geografis Sumatera Utara dengan Sumatera Barat dan Nangroe Aceh Darussalam. Medan sejak lama telah menjadi pusat ekonomi dan pendidikan di Pulau Sumatera, sehingga tidak mengherankan kalau banyak penduduk dari wilayah di sekitar Sumut yang datang merantau.
Tumbuh di lingkungan dengan akulturasi kebudayaan seperti yang terdapat di kota Medan, tentu memberi banyak pelajaran bagi kita, terutama mengenai toleransi dan penghargaan terhadap budaya orang lain. Dan bukankah kita diciptakan Allah berbeda-beda untuk saling mengenal dan menyadari kebesaran-Nya?
Paling asyik kalau sedang digelar pesta perkawinan, adat-istiadat berbagai etnis yang ada bisa kita lihat secara jelas. Beberapa waktu lalu, tetangga saya menghelat syukuran pernikahan putrinya, saya bisa mendengar dan melihat lagu dan sedikit tarian Timur Tengah. Sementara itu, sebelum dan sesudah Imlek di Medan lagi banjir buah, terutama berbagai jenis jeruk. Tidak hanya diminati orang Tionghoa, warga dari etnis lain juga rame-rame beli buah atau manisan kering yang sebenarnya khas Imlek. Acara yang menampilkan Barongsai juga digelar di mana-mana. Semua orang senang, semua orang menikmati.
Bahasa
Pada dasarnya, bahasa yang dipergunakan secara luas adalah bahasa Indonesia. Namun, tentu saja penggunaan bahasa Indonesia di Medan masih sangat dipengaruhi bahasa Melayu (juga dari bahasa etnis lainnya), tidak hanya pada bahasa sehari-hari, namun juga pada bahasa tulisan misalnya di koran-koran lokal. Tidak heran kalau Anda membaca surat kabar lokal, Anda akan menemukan kata-kata yang harus dicari padanan katanya dalam bahasa Indonesia agar mengerti saat membacanya. Mungkin selain bahasa daerah, perlu diperkenalkan lagi satu bahasa: bahasa Medan! He..he..
Beberapa contoh kata yang sering digunakan orang Medan antara lain: awak (saya, bisa juga berarti kamu), pajak (pasar), kereta (sepeda motor), rol (penggaris), kede/kedai (warung), bombon/bonbon (permen), angek (iri), bedangkik (pelit), paten (hebat), mentel (genit), mengkek (manja), libas (berasal dari bahasa Batak, artinya memukul dengan cemeti atau sapu lidi, menyikat habis, mengalahkan), RBT (ojek, katanya RBT singkatan dari Rakyat Banting Tulang, kalau yang ini saya tidak tahu benar atau tidak hehe...).
Orang Medan juga suka menyingkat kata misalnya limper ( lima perak, maksudnya Rp 5), limpul (Rp 50), limrat (Rp 500), cemana (dari kata macam mana yang berarti bagaimana), kepling (kepala lingkungan) dan sebagainya.
Suku Melayu Deli menuturkan bahasa Melayu. Ada bahasa Melayu berdialek "O" , ada pula bahasa Melayu dengan dialek "E" yang sering juga disebut bahasa Maya-maya (baca: maye-maye). Keluarga saya ada yang menikah dengan orang Melayu. Nama beliau Ibnu Ruhyan, saya memanggilnya Paklek Ibnu, ikut tutur keluarga saya yang dominan Jawa, tapi saya memanggil orangtua Paklek Ibnu "Atok Aje"(kakek) dan "Atok Emak" (nenek). Sepupu saya, Randy, memanggil ayahnya (Paklek Ibnu) dengan sebutan "Aje" dan menyebut ibunya "Mamak". Sementara, adik Randy yang bernama Ryan memanggil abangnya dengan "Babah". Nah, satu lagi Bu Ida, juga orang Melayu. Beliau memanggil neneknya dengan sebutan "Andung". Anak saya memanggil mamak Bu Ida dengan sebutan "Unyang" (buyut).
Sementara keturunan Jawa Kontrak ( Jadel - Jawa Deli ) memakai bahasa Jawa yang sudah terdegradasi. Jadi jangan tersinggung kalau Anda berkunjung ke Medan dan diajak berbahasa Jawa kasar. Bukan karena ketidaksopanan, tapi lebih karena ketidaktahuan. Orang Pujakesuma (Putera Jawa Kelahiran Sumatera) memang sedikit sekali yang bisa bahasa Jawa halus. Mantan district manager saya di salah satu penerbangan swasta berasal dari Jawa Timur. Ketika orangtuanya berkunjung ke Medan, beliau mewanti-wanti orang tuanya supaya berbahasa Indonesia saja, agar tidak terjadi kesalahpahaman karena masalah "rasa" dalam berbahasa.
Orang Tionghoa lazim menuturkan bahasa Hokkien selain bahasa Indonesia. Antar sesamanya, orang Tionghoa boleh dibilang selalu menggunakan bahasa Hokkien. Kalau sering bergaul dengan orang Cina, biasanya kita bisa sedikit-sedikit mengerti bahasa dimaksud, atau paling tidak berbahasa Indonesia dengan dialek Hokkien.
Suku Batak menuturkan bahasa Batak yang terbagi atas banyak logat. Semasa SMA, saya pernah minta dituliskan kamus kecil bahasa Batak pada sahabat saya, Lusiana Berampu, tapi karena tidak dipelajari lebih lanjut, saya tetap aja tidak menguasai bahasa Batak.
Agama
Agama utama di Sumatra Utara adalah: (1) Islam: terutama dipeluk oleh suku Melayu, suku Mandailing dan Jawa; (2) Kristen (Protestan dan Katolik): terutama dipeluk oleh suku Batak dan Nias; (3) Hindu: terutama dipeluk oleh keturunan India; (4) Buddha dan (5) Konghucu: terutama dipeluk oleh suku Tionghoa.
Surga Kuliner
Siapapun yang pernah tinggal atau berkunjung ke Medan pasti sepakat bahwa kota ini adalah surganya kuliner. Seperti telah dijelaskan sebelumnya, Medan didiami oleh berbagai suku, masing-masing etnis punya makanan khas yang tentu saja "enak kali!!" (enak banget). Pokoknya kalau ditawari makan oleh orang Medan, libas aja (sikat habis). Eh, iya bagi Anda yang muslim jangan lupa bertanya makanannya halal atau tidak. Ada beberapa jenis makanan tidak halal, baik itu karena mengandung unsur babi, arak bahkan anjing. Mari kita telusuri satu persatu makanan khas Medan.
Di manapun di kota Medan mudah kita temui rumah makan Melayu-Minang. Mau pesan apa? Gulai kepala ikan, ayam pop, kari, lele sambel ijo, anyang. Ada pula bubur pedas yang katanya dibuat dari 44 macam bahan dan bumbu (saya belum pernah makannya nih). Jangan lupa juga sate Padang, yummy… Kalau ini lebih banyak lagi yang jual, tidak hanya di restoran atau rumah makan, ajo-ajo banyak yang keliling ke rumah-rumah atau stand by di tempat-tempat strategis.
Berbagai makanan Tionghoa juga bisa kita jumpai. Kwetiau (biasa disebut mie Tiauw), bakmie, nasi ayam Hainan. Kalau mau tahu lebih lanjut, coba aja berkunjung ke warung-warung di Jalan Semarang dan Jalan Selat Panjang. Oya, Anda tahu tidak kalau makan kari selain ditemani nasi, Anda bisa juga mencoba kari plus bihun (ini pengaruh masakan Tionghoa).
Siapa pula yang tidak kenal soto Medan? Nyam..nyam… Bayangin kelezatan kuahnya, dagingnya (bisa daging ayam, sapi atau udang) salah satu yang terkenal adalah Soto Udang di Jalan Kesawan, kalau saya sih langganannya soto Medan “Purwodadi� di Brayan. Biasanya makan soto didampingi sepiring nasi putih, perkedel dan sambal kecap.
Kalau makanan Batak kita bisa coba arsik ikan (salah satu bumbunya adalah bawang Batak), daun ubi tumbuk (daun singkong yang dihaluskan dimasak dengan santan dan bumbu-bumbu lainnya, kalau suka ditambah rimbang), makannya ditemani ikan asin sama sambal ikan atau sambal ayam. Bakal gak cukup nasi sepiring hehe…Bagi yang non-muslim bisa mencoba hidangan di lapo yang menawarkan BPK (Babi Panggang Karo).

Makanan Jawa juga mudah kita jumpai, seperti pecal, gado-gado, tongseng, gudeg juga ada. Nah, yang lagi naik daun di Medan adalah hidangan ayam penyet.
Masakan Aceh juga banyak penggemarnya di Medan. Di Glugur, dekat rumah saya ada Sop Sumsum Langsa. Dengan Rp 23.000 kita bisa mendapatkan satu porsi sup tulang kaki sapi yang segar. Sumsumnya dihisap dengan memakai sedotan (pipet kata orang Medan). Sluurrrp.... Tidak sedikit orang yang menyukai mie Aceh, apalagi mie Aceh dengan kepiting di Titi Bobrok yang sangat terkenal. Tapi, entah kenapa ya, saya termasuk segelintir orang yang tidak menyukai mie Aceh. Apalagi pakai kepiting, bukan karena saya tidak suka kepiting, tapi karena saya alergi kepiting !!
Sumbangan kuliner dari India dan Timur Tengah juga tidak bisa dikesampingkan. Martabak India/Mesir pasti tidak pernah saya tolak hehe... Sertakan juga nasi Briyani, roti cane, makanan kecil seperti mayong (putumayam/putumayang), kue putu.
Sebagai tambahan informasi, oleh-oleh dari Medan tidak hanya bika Ambon dan sirup Markisa. Coba saja cari di Jalan Mojopahit (langganan saya toko Zulaika) ada lapis legit dan sirup terong Belanda. Tidak ketinggalan pula Bolu Gulung Meranti di Jalan Kruing yang lembut banget itu. Kalau mau makanan mentah Anda bisa mencari teri Medan sebagai oleh-oleh. Biasanya ibu saya beli di Sentral (pajak central aka pusat pasar aka Central Market) di dekat Medan Mall. Mau beli durian tanpa mengenal musim? Coba cari di Jalan Adam Malik (Glugur by pass), atau di satu toko baru pusat oleh-oleh serba durian di Jalan Sekip.
Wah..wah, mendata makanan dan minuman yang ada di Medan jadi haus. Pengen jus Martabe nih alias jus markisa plus terong Belanda. Cao dulu awak ya, Wak!!

1 komentar:

  1. mantap kali bah ! jadi rindu pulak awak mo pulang medan

    BalasHapus